Salah satu wisata primadona Kalimantan selatan adalah bamboo rafting di Loksado. Pertama kali ditempatkan di salah satu unit perusahaan tempat bekerja di Kal Sel, Saya pun langsung memasukkan spot wisata ini dalam wish list Saya. Karena prinsip Saya, jika menempati suatu daerah untuk waktu yang lama maka Saya harus memaksimalkan explore daerah tersebut.

Tiga tahun sudah Saya “dilempar” di desa Tarjun Kal Sel, yang tentunya jarang sekali orang mengetahui letaknya di Kal Sel bagian mana, bahkan orang KalSel sekalipun. Sebagai selebrasi kecil-kecilan, Saya pun meracuni teman-teman untuk mengunjungi Loksado (padahal moment nya aja pas dengan 3 tahun Saya di Tarjun). Berbekal duit rekreasi yang diberikan oleh perusahaan sebesar Rp. 175.000 per karyawan, karena Saya jomblo dan rombongan yang berangkat semua belum berkeluarga (membujang dulu) jadi hitungannya Rp. 350.000×5 orang= Rp. 1.750.000. Berdasarkan info yang Saya himpun di blog dan hasil Tanya-tanya via WA dengan orang asli sana, kalu dihitung-hitung sih gak cukup. Hitungan kasarnya seperti ini:

Bamboo rafting 2 rakitx300.000=600.000

Penginapan 2 kamarx150.000= 300.000

Bensin= 600.000

Makan 6×25.000/makanx7kali makan= 1.050.000

Total= 2.550.000

Mau tak-mau, kami harus urunan. Dan yang bikin tambah gak enak lagi, salah satu kawan membatalkan pergi bersama kita. A little bit non sense sih alasannya, setengah centil 😱 dia berkata “I got bad feeling”. Seketika dalam hati Saya langsung mentidakaminkan perkataannya. I’m not going there to make some problem, so I don’t have to worry. Because show must go on, kita berlima tetap berangkat walaupun duit berkurang karena teman yang gak jadi pergi mengambil duitnya (walaupun untung Rp. 100.000 karena kompensasi ke kita karena sudah membantu duitnya cair 😂 teteeuup gak mau rugi pemirsaa hahaha *evil Laugh 😂😂kan mayan tuh buat beli bensin).

Jumat sepulang kerja, Saya pun packing barang yang nantinya mau dibawa ke Loksado. Tak lupa belanja cemilan-cemilan di Indomar*t Pasar Tarjun buat bekal biar gak mati gaya di mobil dan bekal selama disana, karena menurut info yang Saya himpun, di tengah hutan dan sekitaran pegunungan Meratus nan jauh disana gak ada Minimarket 🙂 . Selepas packing dan menunaikan kewajiban yang Saya jama’, klakson mobil teman pun memberi isyarat akan keberadaannya di depan rumah. Dan saya pun langsung menyambar backpack orange kesayangan saya dan langsung mengkavling deretan kursi belakang sembari mendeklarasikan bahwa tiada seorang pun yang boleh mengambil deretan kursi belakang selain saya (haahahah, *biar bisa bobok ganteng).

Perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Tadinya kita mau mengambil jalur motong buat nyampe Loksado. Tapi kami mengurungkan niat, karena mendapat kabar bahwa jalanan rusak parah dan lebih parah lagi karena musim hujan. Jadinya muter deh. Tarjun ke Banjar (entah Banjarbaru atau Banjarmasin, soalnya kerjaan saya Bokep (bobok cakep) mulu di kursi belakang. Nyampe di Kandangan sekitar jam 3 Shubuh dan check point di masjid Kandangan. Sembari menunggu sholat shubuh, kami (sebenarnya mereka sih karena saya sudah pewe a.k.a posisi weeenaaak di kursi belakang seorang diri, hahah) melanjutkan tidur dengan mengatur sandaran kursi agar lebih pewe.

Setelah melaksanakan kewajiban sholat shubuh, kita pun melanjutkan perjalanan yang kira-kira 1 jam lagi nyampe di Loksado. But wait, kok rasa-rasanya agak gimana gitu yah menginjakkan kaki di kandangan tapi gak mencoba Ketupat Kandangan. Ketupat kandangan ini terdiri dari beberapa potongan ketupat yang ukurannya jumbo dengan saus santan plus ikan gabus asap. Satu yang membuat saya keheranan dengan makanan ini. Makan pakai tangan—padahal berkuah dan ketupatnya dihancurin. Lah terus ngapain tuh si beras dimasak lama-lama pake di bungkus daun kalo pada akhirnya dihancurin, cukup hati abang yang dihancurin sama dedek *ehh malah curhat. Kata temanku sih, emang cara makannya kayak gitu. Wesslah, sekarepmu wae. Saya tetap menikmatinya dengan pake sendok. Soalnya kuahnya enak diseruput-seruput.

Singgah kencing di kebun orang dan tak lupa mengabadikan pemandangan gunung di belakang

Urusan kantong tengah terselesaikan, saatnya melanjutkan perjalanan. Kita sempat melihat resort Tanuhi (awalnya mau nginap di tempat ini, tapi karena alasan bajet akhirnya gak jadi) saat perjalanan menuju Loksado. 10 menit lagi jarum panjang menyentuh pukul 7 pagi. Akhirnya nyampe juga di Loksado. Berjejeran lanting bamboo di pinggir sungai yang setelah nanya-nanya ternyata lanting-lanting tersebut sudah dipesan oleh wisatawan untuk hari ahad esok. Setelah deal dengan harga per lanting Rp. 300.000 kami pun langsung menitipkan barang ke penginapan yang juga telah kita booking dengan bapak yang sama. Cukup dengan membayar 120.000/kamar. Pada saat itu kami hanya menyewa 1 kamar saja. Dan bisa dibayangkan, 5 orang dengan komposisi 3 orang berbadan “agak berisi” dan 2 orang berbadan “kurang berisi” tumpek blek dalam 1 kamar hahahha (kayak ikan sarden).

 Jejeran lanting bambu di pinggir sungai Amandit

Formasi lanting dibagi menjadi 2 team, team 1 diisi oleh kelas berat 😃 (Mas Oky dan Pak Bambang) dan team 2 diisi oleh kelas ringan (Saya, Bayu dan Azmi, walaupun sebenarnya Azmi sudah gak masuk kelas ringan lagi berhubung doi sudah nikah 😃 ). Berbeda halnya dengan wisata arung jeram di kota-kota lain di Indonesia dengan perlengkapan safety yang memadai, bamboo rafting di Loksado kita tidak memakainya. Saya sempat menanyakan ke paman pengayuh bamboo, tapi pamannya meyakinkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan, so let’s go paman 💪💪😃.

Jernihnya sungai Amandit
Hijaunya hutan tropis yang ada di kanan-kiri

Perjalanan menyusuri sungai Amandit dengan lanting kira-kira 2,5-3 jam. Sepanjang perjalanan mata kita dimanjakan dengan pemandangan hutan tropis khas Kalimantan. Di awal-awal kita juga sempat melihat kegiatan penduduk Loksado yang bermukim di pinggir sungai Amandit. Ada yang mencuci, ada yang mandi (tentunya dengan memakai sarung yak hehehe), ada juga yang mengambil batu-batu sungai. Di perjalanan menyusuri sungai Amandit, paman pengayuh lanting bercerita tentang pentingnya peran sungai ini dalam menyokong kehidupan masyarakat Loksado. Sebelum jalan dibangun oleh pemerintah, sungai Amanditlah yang menjadi sarana transportasi masyarakat Loksado untuk menuju Kandangan untuk melakukan kegiatan jual-beli mencukupi kegiatan mereka sehari-hari. Dan yang tak kalah penting, sungai Amandit itu menjadi fasilitas para pejuang kemerdekaan untuk melancarkan serangan-serangan kepada pihak penjajah. Di akhir perjalanan nantinya kita akan melihat semacam monument perjuangan pahlawan Kalimantan Selatan.

Team 2, Paman Pengayuh Lanting dan Kelas Ringan 🙂

1.5 jam perjalanan telah berlalu. Paman pengayuh lanting menawarkan kepada kita untuk mencicipi segarnya sungai Amandit dengan berenang. Dan kami langsung menyambut tawaran si paman. Tanpa ba-bi-bu saya langsung menanggalkan baju saya. Brrr, dinginnya air sungai membuat saya menggigil. Maklumlah, diantara teman-teman, sayalah yang paling tipis badannya (tapi perasaan saya gak setipis badan saya kok 🙂 hehehe ). Puas berenang-renang dan cekrek-cekrek, kami langsung mengenakan atasan kami dan melanjutkan perjalanan. Belakangan saya menyadari bahwa si paman pengayuh lanting menawarkan kita berenang di sungai karena doi capek mengayuh dan mengarahkan lanting yang terkadang tersangkut di batu-batu sungai. Maaf paman lah, kami pemuda-yang-kurang-peka hehehe. Melanjutkan perjalanan, kami berharap menemui bekantan and friend di hutan-hutan yang kami lalui. Namun tak ada satupun yang muncul. Mungkin bekantan and friend lagi tidur soalnya masih pagi. Alih-alih bertemu bekantan and friend, yang ada malah kita melihat babi hutan di pinggir sungai yang lagi minum. Perjalanan berikutnya mata kami masih dimanjakan akan hijaunya hutan tropis. Setelah sampai di ujung perjalanan dan paman pengayuh lanting menyandarkan lantingnya, salah satu diantara kita, Mas Oky, menyewa ojek menuju tempat parkir mobil untuk mengendarai mobil dan menjemput kita.

Kurang bidadari-bidadari yang mau diculik nih

Selama 3 jam menyusuri sungai Amandit, kami hanya makan wafer yang kebetulan saya selipkan di tas saya. Padahal tadinya Mas Oky dan Azmi ngejek saya, ngapain bawa-bawa makanan bikin berat-berat saja tasmu itu. Dan wafer itu menjadi pengganjal perut kami selama berbamboo rafting. Kami pun memutuskan brunch terlebih dahulu dengan mi instan di warung tempat kami menyewa lanting dan penginapan. Sambil bertanya-tanya pilihan transportasi menuju air terjun Haratai. Ternyata ada 2 opsi menuju air terjun Haratai, dengan trekking/jalan kaki selama berjam-jam atau naik sepeda motor. Tentu saja kami para-pemuda-koler (koler=bahasa banjar yang artinya malas/pemalas) memilih sepeda motor. FYI, pilihan sepeda motor menuju air terjun Haratai biayanya Rp. 70.000 untuk ojek (dibonceng oleh paman ojek) dan Rp. 80.000 untuk lepas kunci (jaminan KTP tidak diperlukan kok 😋). Berhubung kita berlima, maka formasinya adalah sewa motor lepas kunci 2 buah dan 1 ojek. Jalan menuju air terjun Haratai lumayan menantang, kadang berkelok-kelok, kadang melewati jalanan yang becek dan juga jembatan kayu yang hampir ambruk. Butuh waktu sekitar 30-45 menit menuju air terjun Haratai. Bisa dibayangkan jika ditempuh dengan jalan kaki berapa lama nyampenya.

Lanting+Tali menuju bawah air terjun

Di air terjun Haratai, kita bisa bermain-main air dan mengendarai lanting untuk menuju bawah air terjun. Pada saat kami berkunjung ke sana, debit air terjun lumayan besar jadi hati-hati yah kalau mau berenang di sekitar air terjun Haratai.

Air terjun Haratai
Yoga pose di air terjun Haratai

Puas bermain api eh air dan menikmati pemandangan sekitar air terjun Haratai kami pun pulang menuju penginapan untuk bersih-bersih dan menjamak sholat Dzuhur dan Asar. Sambil menikmati sore yang tenang di Loksado, kami berbincang-bincang dengan kawan-kawan Samarinda Backpacker yang satu penginapan dengan kami. Ada bang Mukmin dan juga bang Ibnu yang ternyata juga anggota Couchsurfing Samarinda. Saya salut dengan kegigihan teman-teman Samarinda Backpacker yang bela-belain naik darat dari Samarinda menuju Loksado untuk menikmati Zamrud Yang Tersembunyi. And it’s totally worth the tiredness with the beauty of Zamrud Loksado.

Malamnya kami menikmati makan malam di warung depan Meratus Resort. Nasi hangat plus ikan nila goreng yang segar cukup me-reload tenaga kami sebelum akhirnya beristirahat di penginapan.

Susunan ikan sarden dalam satu kamar heheheh

Keesokan harinya, harapan kami bisa meninggalkan penginapan pagi-pagi sekali agar bisa menikmati sunrise di bukit Langara sehingga malamnya kami menemui ibu pemilik homestay untuk membayar kamar yang kami sewa.

Namun harapan hanyalah harapan. Kami baru selesai packing sekitar pukul 06.30 which is matahari sudah agak tinggi. Perjalanan menuju bukit Langara searah dengan jalan menuju pulang ke Tarjun. Sekitar 20 menit  kami sudah di area parkir Bukit Langara. Bayar parkir mobil Rp. 10.000 dan tiket masuk Rp. 3.000. Untuk mencapai puncak bukit Langara, kira-kira trekking sekitar 20-35 menit, tergantung kelincahan, kekuatan dan kegigihan hahahahha 😋. Soalnya medannya lumayan terjal. Ditambah licinnya tanah yang ada di tangga membuat kami extra hati-hati. Di 5 menit terakhir menuju spot foto yang kece, medan yang dilalui berupa batu-batu gunung yang lumayan tajam-tajam. Untungnya pas kita nyampe di puncak bukit Langara, pengunjungnya cuma kita doank ditambah 3 anak muda. Gak kebayang jika rame pengunjung, dan antri untuk berfoto.

Oeee belum ready woooyyy
Amazing view of Langara Hill
Batuan yang tajam di Bukit Langara

Sepulang dari bukit Langara kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Tarjun dan menyempatkan untuk sarapan ketupat kandangan di tempat lahirnya kuliner ini. Kami baru sampai di Tarjun hampir tengah malam dengan kondisi badan capek namun jiwa kami segar.

Itulah esensi dari sebuah perjalanan. Me-refresh kelima indra secara batiniah walau secara lahiriah kita capek. Bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat serta traveler-traveler lainnya.

Ringkasan pengeluaran selama di Loksado:

Sewa Lanting: Rp. 300.000/lanting bambu maksimal 3 orang

Ojek dari ujung rute bamboo rafting ke tempat parkir mobil: Rp. 25.000/ojek

Sewa penginapan: Rp. 120.000/kamar (terserah mau diisi berapa orang 😄 )

Sewa motor: Rp. 80.000/motor (untuk 2 orang)

Sewa ojek:Rp. 70.000/ojek (paman driver+penumpang)

Makan Mi instan: Rp. 5000/1 bungkus mi

Makan nila+lalapan: Rp. 25.000/porsi

Untuk koleksi foto-foto lainnya kunjungi instagram saya di @iiwaniqbal atau facebook di Ikhwan Iqbal.

Silahkan tinggalkan komentar jika ada yang ingin ditanyakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s